Profil Ruben Amorim, Akhir Singkat di Manchester United
Manchester United resmi mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim pada Senin, 5 Januari 2026. Keputusan tersebut diumumkan setelah lebih dari satu tahun Amorim menjabat sebagai pelatih kepala. Pemecatan ini menutup perjalanan singkat sang pelatih asal Portugal di Old Trafford, sebuah periode yang penuh tekanan, ekspektasi tinggi, serta konflik internal yang akhirnya tak terhindarkan.
Bagi Manchester United, pergantian pelatih kembali menjadi solusi cepat di tengah performa yang dinilai tidak sesuai target. Sementara bagi Amorim, episode ini menjadi pengalaman paling menantang dalam karier kepelatihannya yang sebelumnya dikenal cemerlang di Portugal.
Profil Singkat Ruben Amorim
Rúben Filipe Marques Amorim lahir di Lisboa, Portugal, pada 27 Januari 1985. Ia dikenal sebagai mantan gelandang dengan kecerdasan taktik tinggi sebelum beralih menjadi pelatih. Amorim termasuk dalam generasi pelatih muda Eropa yang mengedepankan pendekatan modern, disiplin struktural, serta filosofi permainan berbasis kolektivitas.
Nama Amorim mulai dikenal luas bukan karena masa bermainnya semata, melainkan karena lonjakan karier kepelatihannya yang terbilang cepat. Dalam waktu singkat, ia berhasil menembus jajaran elite pelatih Portugal dan Eropa.
Karier sebagai Pemain Profesional
Sebelum meniti jalur kepelatihan, Amorim menjalani karier sebagai pesepak bola profesional. Ia memperkuat sejumlah klub Portugal, termasuk Belenenses dan Benfica.
Bersama Benfica, Amorim tampil di level tertinggi sepak bola domestik dan Eropa. Ia dikenal sebagai gelandang pekerja keras dengan kemampuan membaca permainan yang baik. Performa stabilnya mengantarkan Amorim mengenakan seragam tim nasional Portugal di beberapa ajang internasional.
Namun, serangkaian cedera dan tuntutan fisik membuatnya memutuskan pensiun pada 2017. Keputusan itu menjadi titik balik penting, karena Amorim segera mengalihkan fokus ke dunia kepelatihan.
Awal Karier Kepelatihan yang Menanjak
Tak lama setelah gantung sepatu, Amorim memulai karier sebagai pelatih di Casa Pia. Meski berada di level bawah, di sinilah ia mulai membangun identitas sebagai pelatih dengan ide permainan jelas dan pendekatan detail.
Namanya mulai mencuat ketika bergabung dengan Braga. Amorim sempat menangani tim cadangan Braga B sebelum dipercaya melatih tim utama. Di Braga, ia menunjukkan keberanian taktis dan hasil positif yang membuat banyak pihak terkesan.
Kesuksesan singkat namun meyakinkan di Braga membuka jalan menuju tantangan yang lebih besar.
Era Keemasan di Sporting CP
Puncak reputasi Amorim datang saat ia ditunjuk sebagai pelatih Sporting CP pada 2020. Di klub Lisbon tersebut, Amorim mencetak sejarah dengan membawa Sporting CP menjuarai Primeira Liga, mengakhiri dominasi panjang rival-rivalnya.
Selain gelar liga, ia juga mempersembahkan sejumlah piala domestik dan membangun skuad muda yang kompetitif. Filosofi permainannya yang disiplin, agresif, dan terorganisir menjadikan Sporting CP kembali diperhitungkan di Eropa.
Keberhasilan ini membuat Amorim disebut-sebut sebagai salah satu pelatih muda terbaik di Eropa. Klub-klub besar mulai memantau perkembangannya, termasuk dari Inggris.
Tantangan Besar di Manchester United
Pada November 2024, Amorim resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala Manchester United, menggantikan Erik ten Hag. Penunjukan ini membawa harapan besar bagi publik Old Trafford yang mendambakan stabilitas dan kebangkitan.
Namun, realitas Liga Inggris terbukti jauh lebih kompleks. Dalam 14 bulan masa kepelatihannya, Manchester United tampil inkonsisten. Hasil positif kerap diikuti penampilan mengecewakan, membuat klub kesulitan bersaing di papan atas.
Selain masalah di lapangan, Amorim juga dihadapkan pada dinamika internal yang rumit. Perbedaan pandangan dengan manajemen terkait kebijakan transfer, struktur otoritas, dan arah proyek jangka panjang berkembang menjadi konflik terbuka. Situasi ini perlahan menggerus kepercayaan antara pelatih dan manajemen.
Konflik Internal dan Pemecatan
Sumber internal klub menyebutkan bahwa konflik kebijakan transfer menjadi pemicu utama pemecatan Amorim. Ia disebut menginginkan kontrol lebih besar atas rekrutmen pemain, sementara manajemen memilih pendekatan berbeda.
Ketegangan tersebut memuncak pada awal 2026. Manajemen Manchester United akhirnya memutuskan bahwa perubahan diperlukan demi menyelamatkan musim dan stabilitas klub. Amorim pun harus angkat kaki, menambah daftar pelatih yang gagal bertahan lama di Old Trafford.
Akhir Singkat, Masa Depan Masih Terbuka
Meski gagal di Manchester United, reputasi Ruben Amorim tidak sepenuhnya runtuh. Banyak pengamat menilai kegagalannya lebih dipengaruhi oleh kompleksitas internal klub ketimbang murni kemampuan taktik.
Dengan usia yang masih relatif muda untuk seorang pelatih top, Amorim diyakini masih memiliki masa depan cerah. Pengalamannya di Inggris, meski pahit, bisa menjadi bekal berharga untuk proyek selanjutnya, baik di Portugal, Eropa, maupun liga lain.
Kisah Ruben Amorim di Manchester United menjadi pengingat bahwa kesuksesan di satu lingkungan tidak selalu mudah direplikasi di tempat lain. Di klub sebesar Manchester United, hasil, manajemen, dan harmoni internal sama pentingnya dalam menentukan nasib seorang pelatih.
Baca Juga : Meksiko Tolak Ekstradisi Maduro dan Intervensi AS
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritajalan

