beritabandar.com Diskominfo Provinsi Jawa Barat menggelar IKP Talk dengan fokus pada penulisan rilis pers yang efektif. Kegiatan ini berlangsung secara luring dan daring, sehingga dapat diikuti oleh pranata humas dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Pelaksanaan acara ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas komunikasi publik dan memperkuat peran humas pemerintah di era digital.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang IKP Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Nidar Naim, menyoroti derasnya arus pemberitaan. Saat ini publik disuguhi informasi yang sangat cepat dan masif. Banyak pemberitaan yang bernilai positif, tetapi tidak sedikit pula yang bernada negatif. Di tengah situasi seperti ini, pranata humas berperan penting dalam meluruskan informasi dan menjaga akurasi narasi pemerintah.
Relevansi Rilis Pemerintah di Era Informasi Cepat
Nidar menyampaikan pertanyaan penting mengenai relevansi rilis pemerintah saat ini. Menurutnya, gaya rilis yang terlalu birokratis sering kali tidak menarik minat pembaca. Masyarakat kini lebih menyukai informasi yang singkat, jelas, dan mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan tren konsumsi informasi yang lebih visual, cepat, dan langsung pada pokok persoalan.
Ia juga menyinggung apakah teori jurnalistik kehumasan masih relevan dalam kondisi yang berubah cepat. Oleh karena itu, pihaknya menghadirkan praktisi jurnalis untuk membahas cara memberikan rilis yang efektif bagi media dan publik. Nidar menegaskan bahwa humas tidak lagi cukup hanya mengandalkan gaya penulisan lama. Mereka harus mempelajari tren baru dan menyesuaikan pola penulisan agar tetap relevan.
Perubahan Minat Publik dan Dominasi Media Sosial
Menurut Nidar, tren pemberitaan kini berubah. Masyarakat cenderung menyukai narasi yang pendek dan informatif. Foto, video, dan konten visual lainnya kini lebih mudah menarik perhatian dibandingkan paragraf panjang. Pola konsumsi media ini membuat masyarakat lebih sering mengakses berita melalui aplikasi media sosial dibandingkan portal berita konvensional.
Perubahan ini menuntut pranata humas untuk memahami algoritma media sosial, cara kerja engagement, serta gaya penulisan yang sesuai dengan karakter warganet. Humas harus mampu membaca sudut pandang media mainstream, memahami agenda pemberitaan, dan menghubungkannya dengan rilis pemerintah. Dengan cara ini, rilis yang dikeluarkan lebih relevan dan berpotensi diterbitkan media.
Kebutuhan Pandangan Baru bagi Pranata Humas
Untuk memenuhi tuntutan tersebut, pranata humas harus memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka perlu melihat minat masyarakat, kecepatan informasi, serta model media baru yang berkembang sangat cepat. Narasi pemerintah harus dikemas lebih ringkas, padat, dan to the point agar tidak tenggelam di tengah banjir pemberitaan.
Selain itu, humas perlu memastikan keakuratan rilis. Kecepatan tidak boleh mengorbankan kualitas. Narasi yang baik harus tetap mengedepankan fakta meski penulisannya lebih singkat. Pranata humas juga perlu memahami bagaimana media memilih isu. Tidak semua rilis akan diangkat menjadi berita. Oleh karena itu, penting untuk memberikan informasi yang relevan dan berdampak.
Rencana Bootcamp untuk Tingkatkan Kompetensi
Diskominfo Jawa Barat berencana menggelar bootcamp khusus bagi pranata humas di seluruh kabupaten dan kota. Tujuannya adalah meningkatkan kompetensi dan kemampuan komunikasi publik berbasis data. Selain itu, bootcamp juga dirancang untuk memperkuat standar narasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar seluruh kanal komunikasi memiliki keseragaman pesan.
Peserta bootcamp akan mempelajari kemampuan menyusun narasi tunggal, teknik manajemen krisis, pendeteksian dini isu negatif melalui media monitoring, hingga produksi konten lintas kanal. Konten yang dimaksud meliputi media sosial, media online, dan format multi-layered content seperti video pendek.
Strategi storytelling, media relations, dan orkestrasi pesan juga menjadi bagian penting. Dengan memahami storytelling, pranata humas dapat menyampaikan pesan pemerintah dengan lebih menarik. Orkestrasi pesan memungkinkan humas menyebarkan informasi secara serempak di berbagai kanal, sehingga efeknya lebih terasa.
Pemahaman dari Perspektif Media: Sudut Pandang Redaksi
Dalam sesi sharing, M. Riski Gaga dari Kumparan memaparkan cara media online bekerja. Menurutnya, setiap pemberitaan yang tayang selalu melalui proses rapat redaksi. Rapat ini dapat berlangsung sangat sering, terutama ketika ada isu hangat.
Riski menjelaskan bahwa redaksi memilih isu berdasarkan dampaknya terhadap pembaca. Media hanya menulis berita yang dianggap penting dan relevan. Setiap hari redaksi menerima banyak rilis. Namun hanya beberapa rilis yang cukup menarik untuk dijadikan berita. Paragraf pertama sangat menentukan. Jika paragraf pembuka menarik, kemungkinan besar berita akan dibaca sampai tuntas.
Ia juga menambahkan bahwa humas pemerintah bisa meniru proses redaksi. Humas dapat membentuk tim kecil untuk menilai rilis mana yang layak dan memiliki nilai berita. Dengan cara ini, kualitas dan efektivitas rilis dapat meningkat.
Menurut Riski, rilis pemerintah harus padat, akurat, dan langsung ke inti persoalan. Jika rilis terlalu panjang dan tidak relevan dengan isu hangat, media cenderung melewatkannya.
Penutup: Peran Humas Kian Strategis di Era Digital
Dengan perubahan tren informasi, pranata humas kini memegang peran yang semakin vital. Mereka bukan hanya pengirim informasi, tetapi penjaga narasi publik. Humas harus mampu menyesuaikan gaya berkomunikasi agar tetap efektif di berbagai kanal.
Melalui IKP Talk, Diskominfo Jawa Barat ingin memastikan bahwa humas pemerintah siap menghadapi tantangan komunikasi modern. Dengan kemampuan yang tepat, pranata humas bisa menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan pemerintah secara jelas, tepat, dan berdampak.

Cek Juga Artikel Dari Platform rumahjurnal.online
