beritabandar.com Di balik hiruk-pikuk kota besar, masih terdapat kisah sunyi tentang satwa liar yang terjebak di ruang yang bukan semestinya. Di kawasan padat permukiman Dukuh Menanggal, Kecamatan Gayungan, seekor monyet ekor panjang betina menjalani hidup dalam kandang sempit. Geraknya terbatas oleh rantai besi, sementara suara kendaraan dan aktivitas manusia menjadi latar kesehariannya.
Kondisi tersebut mencerminkan persoalan yang kerap luput dari perhatian publik, yakni keberadaan satwa liar yang dipelihara secara tidak layak di lingkungan perkotaan. Ruang hidup yang seharusnya berupa hutan dan pepohonan berubah menjadi jeruji besi dan aspal panas.
Hidup yang Terbatasi Ruang dan Waktu
Selama bertahun-tahun, satwa tersebut berada di dalam kurungan yang tidak memungkinkan perilaku alaminya berkembang. Tidak ada ruang untuk bergerak bebas, memanjat, atau berinteraksi sebagaimana karakter alaminya sebagai primata liar.
Lingkungan seperti ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental satwa. Stres berkepanjangan kerap muncul akibat keterbatasan ruang dan minimnya stimulasi alami.
Laporan Warga Menjadi Awal Penyelamatan
Keberadaan monyet tersebut akhirnya mendapat perhatian setelah adanya laporan masyarakat. Warga sekitar menyadari bahwa keberadaan satwa liar di tengah permukiman padat menyimpan potensi risiko.
Kesadaran ini menjadi titik awal keterlibatan negara dalam upaya penyelamatan, baik untuk satwa itu sendiri maupun keselamatan lingkungan sekitar.
Tim Matawali Bergerak ke Lokasi
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal Matawali dari Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera dikerahkan. Tim berada di bawah koordinasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur.
Langkah cepat dilakukan guna memastikan kondisi satwa tidak semakin memburuk dan proses evakuasi berjalan aman.
Pendekatan Humanis dalam Penanganan
Dalam proses penanganan, tim tidak datang dengan pendekatan represif. Tujuan utama adalah penyelamatan, bukan penindakan semata.
Pendekatan dialogis dilakukan agar proses evakuasi berlangsung tanpa konflik. Hal ini penting mengingat keberadaan satwa telah berlangsung lama dan melibatkan aspek sosial masyarakat.
Satwa dan Manusia Sama-sama Berisiko
Keberadaan satwa liar di area permukiman tidak hanya membahayakan satwa itu sendiri, tetapi juga manusia. Satwa yang stres dapat menunjukkan perilaku agresif secara tiba-tiba.
Risiko ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa penanganan harus segera dilakukan. Negara hadir untuk meminimalkan potensi bahaya bagi kedua belah pihak.
Proses Evakuasi Dilakukan Bertahap
Evakuasi dilakukan dengan perhitungan matang. Tim memastikan kondisi kandang, perilaku satwa, serta faktor lingkungan sebelum melakukan pemindahan.
Langkah tersebut bertujuan mencegah cedera baik pada satwa maupun petugas. Proses berjalan dengan pengawasan ketat dan penuh kehati-hatian.
Pemeriksaan Kesehatan Menjadi Prioritas
Setelah berhasil diamankan, monyet ekor panjang betina tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan. Evaluasi kondisi fisik dilakukan untuk mengetahui dampak kurungan jangka panjang.
Pemeriksaan meliputi kondisi luka, kesehatan gigi, otot, hingga perilaku satwa yang menunjukkan tanda stres.
Rehabilitasi sebagai Tahap Lanjutan
Usai evakuasi, satwa tidak langsung dilepasliarkan. Proses rehabilitasi menjadi tahap penting agar satwa kembali memiliki kemampuan alami sebelum kembali ke habitat yang sesuai.
Tahapan ini mencakup pemulihan fisik, adaptasi perilaku, serta observasi intensif oleh tenaga ahli.
Monyet Ekor Panjang sebagai Satwa Dilindungi
Monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang dilindungi dan pengelolaannya berada di bawah kewenangan negara. Pemeliharaan tanpa izin berpotensi melanggar ketentuan konservasi.
Namun, pendekatan edukatif tetap menjadi prioritas agar masyarakat memahami pentingnya perlindungan satwa.
Edukasi Publik Menjadi Bagian Penting
Kasus ini menjadi momentum edukasi bagi masyarakat perkotaan. Satwa liar bukan untuk dipelihara, melainkan dilindungi di habitat alaminya.
Pemahaman ini penting agar kejadian serupa tidak terus berulang di lingkungan permukiman.
Peran Negara dalam Konservasi
Melalui aksi penyelamatan ini, kehadiran negara terasa nyata. Bukan sekadar menjalankan regulasi, tetapi juga melindungi kehidupan yang tak bersuara.
Konservasi tidak hanya berbicara tentang hutan dan taman nasional, tetapi juga tentang ruang kecil di tengah kota.
Kota dan Satwa dalam Ruang yang Sama
Urbanisasi seringkali mempersempit ruang hidup satwa liar. Perubahan lanskap memaksa mereka beradaptasi dengan lingkungan yang tidak ramah.
Oleh sebab itu, perlindungan satwa menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Menjaga Keseimbangan Ekosistem
Setiap satwa memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam. Hilangnya satu spesies atau terganggunya kehidupannya dapat memengaruhi rantai ekosistem.
Upaya penyelamatan ini menjadi bagian dari menjaga keseimbangan tersebut.
Harapan untuk Masa Depan Satwa
Melalui rehabilitasi yang tepat, satwa diharapkan dapat kembali menjalani hidup yang lebih layak. Kebebasan bukan sekadar dilepas, melainkan dipersiapkan dengan baik.
Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen jangka panjang.
Penutup
Di antara aspal dan rantai besi, kisah penyelamatan monyet ekor panjang di Surabaya menjadi simbol kehadiran negara dalam arti sesungguhnya. Negara tidak hanya hadir untuk mengatur, tetapi juga melindungi kehidupan, termasuk yang tidak mampu menyuarakan haknya.
Melalui langkah cepat dan pendekatan humanis, penyelamatan ini mengingatkan bahwa keberadaban sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung tinggi dan jalan lebar, melainkan dari kepedulian terhadap makhluk hidup yang berbagi ruang yang sama.

Cek Juga Artikel Dari Platform jalanjalan-indonesia.com
