Banjir Terbesar Awal Tahun Melanda Pati
Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan skala yang semakin meluas. Hingga Rabu, genangan air telah merendam 93 desa di 19 kecamatan, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu banjir terbesar di wilayah Pantura Jawa Tengah pada awal tahun. Ketinggian air bervariasi antara 50 hingga 120 sentimeter, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.
Gelombang pengungsian terus bertambah seiring hujan lebat yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ribuan rumah, fasilitas umum, serta ratusan hektare lahan pertanian ikut terdampak, menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Hujan Lebat dan Luapan Sungai Jadi Pemicu Utama
Banjir yang meluas di Pati tidak terjadi secara tiba-tiba. Sejak Jumat, curah hujan tinggi terus mengguyur wilayah ini. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa sungai utama meluap dan tidak mampu lagi menampung debit air.
Luapan Sungai Juwana, Sungai Silugonggo, dan Sungai Simo menjadi pemicu utama genangan air yang menyebar ke permukiman warga. Ketiga sungai tersebut merupakan bagian penting dari sistem aliran air di kawasan Pantura, sehingga ketika meluap, dampaknya langsung meluas ke banyak kecamatan.
Sebaran Wilayah Terdampak Sangat Luas
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pati, banjir melanda hampir seluruh penjuru wilayah kabupaten. Kecamatan Pati menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni 14 desa. Disusul Kecamatan Dukuhseti dan Juwana masing-masing 10 desa, serta Jakenan dengan sembilan desa terdampak.
Wilayah lain seperti Gabus, Wedarijaksa, Margorejo, Cluwak, Margoyoso, Tayu, hingga Gembong juga tidak luput dari genangan. Total 19 kecamatan terdampak menunjukkan bahwa banjir kali ini bersifat masif dan lintas wilayah.
Puluhan Ribu Warga Terdampak dan Mengungsi
BPBD Pati mencatat jumlah warga terdampak mencapai 15.237 keluarga atau sekitar 48.193 jiwa. Angka ini diperkirakan masih dapat bertambah seiring pendataan lanjutan dan meluasnya genangan air.
Sebagian warga memilih bertahan di rumah meski terendam, namun tidak sedikit yang terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman. Sekolah, balai desa, dan fasilitas umum lainnya dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sementara.
Ketinggian Air Capai Lebih dari Satu Meter
Kepala BPBD Pati Martinus Budi Prasetyo menjelaskan bahwa tingginya intensitas hujan membuat banjir sulit surut. Di sejumlah titik, ketinggian air bahkan mencapai 80 hingga 120 sentimeter, merendam rumah warga hingga bagian dalam.
Di Kecamatan Pati, Desa Dengkek menjadi salah satu wilayah terparah. Selain rumah warga, genangan air juga merendam sekolah dan perkantoran, mengganggu aktivitas pendidikan dan layanan publik.
Topografi Pati Perparah Kondisi Banjir
Selain faktor hujan dan luapan sungai, kondisi topografi wilayah Pati turut memperparah situasi. Sebagian besar wilayah berada di dataran rendah dengan sistem drainase yang terbatas. Akibatnya, air yang sudah meluap sulit mengalir keluar dan membutuhkan waktu lama untuk surut.
Kondisi ini membuat warga harus bersabar menghadapi genangan yang bertahan berhari-hari. Aktivitas ekonomi lumpuh, akses jalan terganggu, dan risiko penyakit pascabanjir mulai mengintai.
Sawah Terendam, Ancaman Gagal Panen
Tidak hanya permukiman, ratusan hektare sawah warga ikut terendam banjir. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap potensi gagal panen, terutama bagi petani yang baru memasuki masa tanam.
Banjir di kawasan Pantura dikenal sering berdampak langsung pada sektor pertanian. Jika genangan bertahan lama, tanaman padi berisiko mati, yang pada akhirnya berpengaruh pada pendapatan petani dan ketahanan pangan lokal.
Evakuasi dan Bantuan Terus Digencarkan
Pemerintah daerah bersama tim gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan BPBD terus melakukan evakuasi warga. Perahu karet dikerahkan di wilayah dengan genangan tinggi untuk mengevakuasi lansia, anak-anak, dan kelompok rentan.
Selain evakuasi, bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, serta kebutuhan pokok lainnya mulai disalurkan. BPBD juga telah mendirikan posko pengungsian dan membuka dapur umum di puluhan titik untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Dapur Umum dan Layanan Kesehatan Disiagakan
Dapur umum menjadi salah satu fasilitas vital dalam penanganan banjir Pati. Melalui dapur umum, ribuan porsi makanan disiapkan setiap hari untuk para pengungsi dan warga yang terdampak.
Layanan kesehatan juga disiagakan untuk mengantisipasi munculnya penyakit pascabanjir seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pernapasan. Petugas medis melakukan pemeriksaan rutin, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Warga Diminta Tetap Waspada
BPBD Pati mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan lebat. Warga yang tinggal di daerah rawan diminta mengikuti arahan petugas dan segera mengungsi jika kondisi memburuk.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap potensi banjir susulan, mengingat debit sungai masih tinggi dan tanah dalam kondisi jenuh air.
Tantangan Penanganan Banjir Berkelanjutan
Banjir yang terus berulang di Pati menyoroti perlunya solusi jangka panjang. Normalisasi sungai, perbaikan tanggul, serta peningkatan sistem drainase menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dan pusat.
Selain itu, penataan tata ruang dan pengelolaan daerah aliran sungai perlu diperkuat agar banjir tidak terus menjadi ancaman tahunan bagi warga Pantura.
Harapan Warga di Tengah Bencana
Di tengah kondisi sulit, warga berharap air segera surut dan bantuan terus mengalir. Solidaritas antarwarga dan kerja keras tim gabungan menjadi penopang utama dalam menghadapi bencana ini.
Banjir Pati yang meluas ke 93 desa menjadi pengingat bahwa bencana hidrometeorologi membutuhkan kesiapsiagaan kolektif. Dengan penanganan cepat, koordinasi yang baik, dan dukungan semua pihak, dampak banjir diharapkan dapat diminimalkan, sembari menunggu langkah nyata untuk solusi jangka panjang.
Baca Juga : Polisi Tunggu Pelapor Ijazah Jokowi untuk Lanjutkan Restorative Justice
Cek Juga Artikel Dari Platform : radarbandung

