Agung Sedayu Resmikan Masjid Al-Ikhlas di Kawasan PIK
Agung Sedayu Group (ASG) kembali menegaskan komitmennya dalam pembangunan kawasan yang inklusif dan berkelanjutan dengan meresmikan Masjid Al-Ikhlas yang berlokasi di Riverwalk Island, Pantai Indah Kapuk. Peresmian masjid ini berlangsung pada pertengahan Januari 2026 dan menjadi momentum penting bagi pengembangan kawasan hunian dan komersial yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga spiritual dan sosial.
Acara peresmian tersebut dihadiri oleh Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama Republik Indonesia, serta jajaran pimpinan Agung Sedayu Group. Kehadiran tokoh pemerintah dan pimpinan korporasi ini menunjukkan bahwa pembangunan rumah ibadah menjadi bagian integral dari visi pembangunan kawasan modern yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Masjid Al-Ikhlas diharapkan menjadi landmark spiritual baru di kawasan PIK, sekaligus menjadi simbol keterbukaan dan toleransi di tengah kawasan urban yang berkembang pesat.
Masjid Megah dengan Arsitektur Terinspirasi Ottoman
Masjid Al-Ikhlas dibangun di atas lahan seluas sekitar 2.435 meter persegi dengan nilai investasi mencapai Rp45 miliar. Bangunan ini dirancang dengan kapasitas tampung hingga 600 jemaah, menjadikannya salah satu masjid representatif di wilayah Jakarta Utara.
Dari sisi arsitektur, masjid ini mengusung gaya Timur Tengah yang terinspirasi dari era kejayaan Ottoman. Ciri khas tersebut terlihat dari kubah besar, ornamen geometris, serta penggunaan elemen desain yang menonjolkan kesan megah namun tetap elegan. Perpaduan warna dan tata cahaya dirancang untuk menciptakan suasana khidmat yang mendukung kekhusyukan ibadah.
Desain ini tidak hanya menitikberatkan pada estetika, tetapi juga pada fungsi. Ruang salat, area wudu, serta fasilitas pendukung lainnya dirancang ramah bagi berbagai kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Komitmen Agung Sedayu Group terhadap Harmoni Sosial
Direktur Utama Agung Sedayu Group, Nono Sampono, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan Masjid Al-Ikhlas merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan kawasan yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai toleransi.
Menurutnya, masjid ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bangunan fisik untuk beribadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang dapat mempererat hubungan antarwarga. Ia berharap Masjid Al-Ikhlas dapat menjadi tempat bermusyawarah, berdiskusi, serta melahirkan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi pembangunan Agung Sedayu Group yang memandang kawasan properti sebagai ekosistem sosial, bukan sekadar kumpulan bangunan.
Tausiah Menteri Agama tentang Makna Masjid
Dalam tausiahnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa masjid sejatinya adalah rumah kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa esensi masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.
Nasaruddin menyampaikan bahwa dalam ajaran Islam, seluruh permukaan bumi sejatinya dapat digunakan untuk beribadah. Namun, keberadaan masjid memiliki fungsi strategis dalam memperkuat solidaritas sosial, memperdalam nilai spiritual, dan membangun peradaban.
Ia juga menyinggung pentingnya pemanfaatan Masjid Al-Ikhlas secara optimal, terutama menjelang bulan suci Ramadan, melalui berbagai program keagamaan, pendidikan, dan sosial.
Simbol Toleransi di Kawasan Urban Modern
Salah satu poin penting yang mendapat apresiasi dari Menteri Agama adalah visi pengembangan kawasan Riverwalk Island yang tidak hanya menghadirkan masjid, tetapi juga direncanakan menyediakan rumah ibadah bagi agama lain dalam satu kawasan terpadu.
Konsep ini dinilai sebagai langkah progresif dalam membangun toleransi dan harmonisasi di tengah masyarakat urban yang majemuk. Dengan adanya berbagai rumah ibadah dalam satu kawasan, interaksi antarumat beragama diharapkan dapat terjalin secara alami dan saling menghormati.
Masjid Al-Ikhlas pun diposisikan sebagai bagian dari mozaik keberagaman tersebut, bukan berdiri secara eksklusif, melainkan inklusif dalam semangat kebersamaan.
Rangkaian Acara Peresmian yang Sarat Makna
Acara peresmian Masjid Al-Ikhlas dimulai pada sore hari dengan rangkaian sambutan, tausiah, doa bersama, serta penandatanganan prasasti oleh Menteri Agama yang didampingi pimpinan Agung Sedayu Group. Momen tersebut menjadi simbol resmi dibukanya masjid untuk digunakan oleh masyarakat.
Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pengumuman pemenang lomba azan yang diikuti oleh lebih dari 90 peserta dari berbagai wilayah. Lomba tersebut menjadi sarana pembinaan generasi muda sekaligus upaya menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.
Selain itu, Agung Sedayu Group juga menyalurkan bantuan sosial dan cenderamata kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitar.
Masjid sebagai Pusat Spiritualitas dan Aktivitas Sosial
Dengan fasilitas dan konsep yang diusung, Masjid Al-Ikhlas diharapkan mampu berperan lebih dari sekadar tempat ibadah. Ke depan, masjid ini direncanakan menjadi pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan edukatif yang terbuka bagi masyarakat luas.
Kehadiran masjid di kawasan strategis seperti PIK juga diharapkan dapat menjawab kebutuhan spiritual warga yang tinggal dan beraktivitas di kawasan tersebut. Dalam jangka panjang, Masjid Al-Ikhlas berpotensi menjadi ikon baru yang memperkaya identitas kawasan Riverwalk Island.
Penutup: Harmoni Pembangunan dan Nilai Kemanusiaan
Peresmian Masjid Al-Ikhlas oleh Agung Sedayu Group menjadi contoh bagaimana pembangunan kawasan modern dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai spiritual dan kemanusiaan. Di tengah pesatnya pembangunan properti, kehadiran rumah ibadah yang inklusif dan berorientasi sosial menjadi elemen penting dalam menciptakan kota yang beradab.
Masjid Al-Ikhlas bukan hanya simbol keindahan arsitektur, tetapi juga cerminan komitmen untuk membangun harmoni, toleransi, dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Baca Juga : Ekonomi Vietnam Tumbuh 8 Persen, Apa Faktor Pendorongnya
Cek Juga Artikel Dari Platform : bengkelpintar

