beritabandar – Kasus video viral mahasiswa Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyanyikan lagu berjudul “Erika” menjadi pusat perhatian publik pada pertengahan April 2026. Lagu tersebut menuai kecaman keras karena liriknya dinilai mengandung unsur objektifikasi, pelecehan verbal terhadap perempuan, dan tidak pantas dinyanyikan dalam lingkungan akademik.
Berikut adalah poin-poin utama terkait kontroversi tersebut:
1. Isi Lirik dan Kontroversi
Video yang beredar memperlihatkan puluhan mahasiswa (dari Himpunan Mahasiswa Tambang atau HMT-ITB) menyanyikan lagu “Erika” dengan penuh semangat sambil berjoget. Bagian yang paling disorot oleh netizen adalah lirik yang dianggap vulgar dan merendahkan martabat wanita, seperti:
“Erika buka celana sambil bawa botol Fanta, siapa mau boleh coba…”
Lirik ini dinilai sebagai bentuk objektifikasi seksual yang sangat eksplisit. Publik semakin geram karena video ini viral tak lama setelah mencuatnya skandal chat pelecehan 16 mahasiswa Hukum UI, sehingga sensitivitas masyarakat terhadap isu pelecehan di lingkungan kampus sedang berada di titik tertinggi.
2. Asal-Usul Lagu “Erika”
Berdasarkan klarifikasi resmi, lagu ini bukanlah karya baru:
- Tradisi Lama: Lagu “Erika” diketahui telah ada sejak tahun 1980-an di lingkungan internal orkes mereka.
- Unit Orkes: Lagu tersebut dibawakan oleh Orkes Semi Dangdut (OSD), sebuah unit kegiatan di bawah naungan HMT-ITB yang sudah berdiri sejak tahun 1970-an.
- Kelalaian Norma: HMT-ITB mengakui bahwa menyanyikan lagu tersebut di masa sekarang adalah sebuah kelalaian karena liriknya sudah tidak sejalan dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan saat ini.
3. Pernyataan Sikap dan Permohonan Maaf
Merespons kegaduhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Tambang ITB (HMT-ITB) mengeluarkan pernyataan resmi pada 15 April 2026:
- Meminta Maaf: Menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada publik, khususnya kaum perempuan, atas keresahan yang ditimbulkan.
- Pengakuan Kelalaian: Mengakui bahwa konten lagu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai akademik dan etika yang seharusnya dijunjung tinggi.
- Tindakan Penurunan Konten: Berkomitmen untuk menurunkan (take down) semua video dan audio lagu tersebut dari kanal resmi maupun akun individu yang berafiliasi.
- Evaluasi Internal: Berjanji akan melakukan evaluasi komprehensif terhadap seluruh standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai etika kampus.
4. Respons Pihak Kampus
Pihak birokrasi ITB menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjadi ruang yang aman dan bermartabat. Kampus menegaskan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan atau pelecehan, baik fisik maupun verbal. Kasus ini menjadi momentum bagi pihak universitas untuk meninjau kembali budaya-budaya organisasi kemahasiswaan agar tetap inklusif dan menghormati hak asasi manusia.
Saat ini, video tersebut telah banyak dihapus dari platform utama, namun diskusi mengenai perlunya reformasi budaya di himpunan mahasiswa teknik yang sering dianggap “maskulin” terus bergulir di kalangan aktivis dan sivitas akademika.

