beritabandar.com Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menunjukkan komitmen kuat untuk memperluas wawasan mahasiswanya melalui kolaborasi strategis dengan lembaga negara. Salah satu bentuk nyata kerja sama tersebut adalah pelaksanaan kegiatan Customs Goes to Campus yang digelar bersama Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) di Aula Teater I Gift, Gedung Iqra Lantai 2. Kegiatan ini menghadirkan ratusan mahasiswa yang datang dengan antusias hingga ruangan hampir melampaui kapasitas.
Acara dibuka oleh Dekan FEB Unismuh Makassar, Dr. Edi Jusriadi. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pendidikan ekonomi tidak bisa berhenti pada teori saja. Mahasiswa membutuhkan interaksi langsung dengan instansi yang mengelola kebijakan publik, terutama yang berhubungan dengan perdagangan, fiskal, dan perekonomian nasional. Melalui sinergi seperti ini, mahasiswa dapat memahami konteks nyata dari dinamika ekonomi yang selalu berubah.
Bea Cukai: Penjaga Perbatasan, Pelindung Masyarakat, dan Motor Ekonomi
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulbagsel, Dr. Djaka Kusmartana, menjadi pemateri utama dalam kegiatan ini. Ia memberikan gambaran luas tentang peran Bea Cukai sebagai garda terdepan dalam mengawasi arus barang ekspor dan impor. Tugas ini mencakup pengawasan terhadap barang kena cukai seperti etil alkohol, minuman beralkohol, dan hasil tembakau. Pemahaman seperti ini sangat penting, terutama bagi mahasiswa ekonomi yang kelak terjun dalam praktik perdagangan internasional.
Djaka juga membahas isu kepabeanan yang sedang ramai menjadi sorotan nasional. Salah satunya adalah maraknya impor pakaian bekas ilegal atau yang dikenal masyarakat sebagai “cakar”. Menurutnya, pakaian bekas ilegal membawa banyak risiko. Selain berpotensi menyebarkan penyakit, masuknya barang tersebut juga mengancam industri tekstil dalam negeri dan memengaruhi penyerapan tenaga kerja. Karena itu, pengawasan Bea Cukai tidak hanya fokus pada pemasukan negara, tetapi juga perlindungan ekonomi nasional dan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan empat peran utama Bea Cukai, yaitu sebagai Revenue Collector, Community Protector, Trade Facilitator, dan Industrial Assistant. Keempat peran ini membuat Bea Cukai tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengawas, tetapi juga sebagai institusi yang mendukung pertumbuhan industri. Djaka mencontohkan bagaimana fasilitas pembebasan atau penangguhan bea masuk dapat memperkuat arus kas industri sehingga memacu pertumbuhan manufaktur.
Penguatan teknologi juga menjadi fokus. Digitalisasi layanan, sistem informasi yang transparan, hingga pengurangan tatap muka bertujuan meningkatkan integritas pelayanan. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Bea Cukai terus beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Peran BPDP dalam Mengelola Dana Perkebunan
Selain Bea Cukai, kegiatan ini turut menghadirkan Nugroho Adi Wibowo, Kepala Divisi Pengembangan Biodiesel dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Ia menjelaskan bahwa BPDP memiliki mandat untuk mengumpulkan dan menyalurkan dana perkebunan bagi berbagai komoditas unggulan. Penyaluran dana mencakup program peremajaan tanaman masyarakat, penguatan sarana produksi, hingga edukasi untuk meningkatkan kualitas perkebunan nasional.
Mulai tahun mendatang, BPDP akan menyalurkan dana bagi petani kelapa dan kakao di berbagai daerah di Sulawesi. Nugroho menyebut bahwa tantangan utama dalam proses ini adalah ketidaksiapan administrasi dari para pengusul. Selain itu, tingginya harga komoditas membuat sebagian petani enggan melakukan peremajaan tanaman meskipun program tersebut sangat penting untuk keberlanjutan produksi.
BPDP juga terus memperluas dukungan melalui beasiswa bagi anak-anak pekebun. Program ini dijalankan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Sulawesi, termasuk Unismuh Makassar. Selain beasiswa, BPDP membuka peluang kolaborasi dalam bentuk lomba riset mahasiswa demi mendorong inovasi di sektor perkebunan. Bidang riset yang diprioritaskan meliputi agrikultur, teknologi, kesehatan tanaman, ekonomi, dan keberlanjutan industri.
Dalam pemaparannya, Nugroho menekankan bahwa sektor perkebunan tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Meskipun minat mahasiswa terhadap bidang ini belum setinggi sektor teknologi atau industri kreatif, peluang karier dan penelitian di perkebunan sangat luas. Karena itu, BPDP berharap generasi muda semakin terlibat melalui riset dan inovasi.
Unismuh Menilai Kolaborasi Ini sebagai Pembelajaran Komprehensif
Wakil Dekan III FEB Unismuh Makassar, Dr. Rendra Anggoro, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. Menurutnya, materi yang disampaikan Bea Cukai dan BPDP sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa ekonomi. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana kebijakan publik dibentuk, diawasi, dan diimplementasikan oleh lembaga negara.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman nyata mengenai ekonomi makro, perdagangan global, hingga pengelolaan komoditas strategis nasional. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis melalui diskusi interaktif, sesi tanya jawab, serta pre-test dan post-test yang dirancang untuk mengukur tingkat pemahaman peserta.
Antusiasme Mahasiswa Menjadi Bukti Nyata Dampak Kegiatan
Sepanjang acara, antusiasme mahasiswa terlihat sangat tinggi. Banyak peserta tetap bertahan sampai sesi akhir meskipun tidak kebagian tempat duduk. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara kampus dan lembaga negara dapat menghadirkan pengalaman belajar yang komprehensif, aktual, dan berdampak langsung pada perkembangan intelektual mahasiswa.
Sinergi ini juga menunjukkan bahwa kampus memiliki peran besar dalam mencetak sumber daya manusia yang paham kebijakan publik, terampil membaca dinamika ekonomi global, dan siap berkontribusi dalam sektor strategis. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa FEB Unismuh Makassar semakin siap melangkah ke dunia profesional dengan wawasan yang lebih matang dan perspektif yang lebih luas.

Cek Juga Artikel Dari Platform podiumnews.online
